Melihat Kampung Ulos Batak Sakamadeha di Samosir

Samosir – Kampung Ulos Sakkamandeha yang berada di Desa Lumbansuhi, Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, sejak didirikan dinilai sangat berguna untuk meningkatkan kesejahteraan warga yang berprofesi sebagai pengrajin di sana.

Kampung ulos ini menampung sekitar 50 para pekerja di tiga tempat dengan menggunakan 50 unit alat tenun bukan mesin (ATBM). Dari para seniman ulos inilah kebudayaan Batak dilahirkan dan dilestarikan sehingga tidak hilang. Setiap hari pengrajin, baik kaum ibu maupun kaum bapak menghasilkan 30 sampai 40 ulos Batak dan ulos Karo.

Mereka merasakan keberadaan Kampung Ulos Sakamadeha mampu menghidupi keluarga.

“Kami sangat terbantu dengan adanya perkampungan ulos ini untuk menghidupi keluarga. Bahkan menyekolahkan anak-anak,” ujar salah seorang penenun, Lina Sinaga, Jumat 31 Januari 2020 lalu.

Menurut Lina, dalam seminggu dia dapat memproduksi lima ulos dan menjualnya dengan harga Rp 750 ribu setiap minggunya. “Dalam sebulan saya dapat hasil tiga juta,” ujarnya.

Lima tahun lalu, Kampung Ulos Sakkamandeha didirikan oleh Raja Sondang Simarmata, seorang anak muda alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) yang saat ini masih berusia 32 tahun.

Bahasa Sakamadeha berasal dari bahasa Batak kuno yang berarti pohon kehidupan, sehingga kampung ulos ini dapat menjadi sumber kehidupan untuk meningkatkan kesejahteraan para penenunnya.

Didasari kerinduan untuk meningkatkan kesejahteraan para pengrajin, Raja ingin para pengrajin dapat menjadikan profesi penenun menghidupi keluarga dan menyekolahkan anak-anak mereka sampai ke perguruan tinggi.

“Waktu saya dulu sekolah di ITB Bandung, biaya sekolah saya murni dari hasil tenun ibu saya dan dibantu bapak dengan alat tenun seadanya. Karenanya saya ingin para penenun ulos dapat meningkatkan kesejahteraannya di kampung ulos ini sehingga dapat menyekolahkan anak-anaknya sampai perguruan tinggi dengan alat yang lebih baik yaitu ATBM,” ujar Raja.

Raja menyimpan harapan, pemerintah khususnya Pemkab Samosir dapat membantu para penenun baik dalam permodalan maupun pembelian hasil tenun para pengrajin.

“Harapan kita, pemerintah kabupaten ada satu hari tertentu memakai baju ulos yang ada tenunnya, walaupun modifikasi tapi ada unsur tenun di dalamnya supaya penenun di Kabupaten Samosir semakin giat bekerja,” kata Raja.

Menurut Raja, dengan dipakainya secara resmi buah karya tenunan oleh seluruh Aparatur Sipil Negara di Pemkab Samosir secara resmi di hari tertentu, para penenun akan maksimal berproduksi. “Namun saat ini, hasil tenunan masih lebih banyak dijual ke luar,” ungkapnya.

Nilai tambah lainnya, menurut Raja, perkampungan ulos juga dapat menjadi salah satu destinasi wisatawan, untuk melihat bagaimana ulos yang sudah mendunia itu diproduksi oleh para seniman Batak.

“Kalau di Jawa ada tempat khusus para wisatawan datang melihat batik diproduksi oleh para pengrajin batik, kenapa kita tidak mengembangkan kampung ulos ini seperti itu sehingga wisatawan semakin disenangkan dengan banyaknya objek wisata di Samosir ini,” terangnya.

Dari segi permodalan, sejak berdiri lima tahun lalu, kata Raja, yang baru terpilih sebagai Kepala Desa Lumbansuhi, mengaku belum pernah menerima bantuan dari Pemkab Samosir maupun dari pemerintah atasan.

“Belum ada bantuan permodalan dari Pemkab Samosir atau lainnya, untuk permodalan saya murni ngutang di bank,” terangnya.

Dia berharap pemerintah yang merupakan tempat perlindungan para pengrajin di Samosir memberikan keberpihakan dan perhatian kepada para pengrajin tenun ulos di Samosir.
Sumber: TagarID

Komentar Anda

About Janner Simarmata

Janner Simarmata
Janner Simarmata adalah Humas DPP Punguan Pomparan Ompu Simataraja Raja Simarmata Dohot Boruna Se Indonesia, dimana sebelumnya adalah Ketua Bidang Infokom DPP diperiode kepengurusan tahun 2008-2012 dan 2012-2016. Dia juga yang mengelola website SIMARMATA.OR.ID sejak tahun 2008 hingga saat ini.