picture-023
Janner Raja Simarmata

Humas DPP Punguan Pomparan Ompu Simataraja Raja Simarmata Dohot Boruna Se Indonesia, sebelumnya adalah Ketua Bidang Infokom DPP tahun 2008-2012 dan 2012-2016, sekaligus pengelola website SIMARMATA.OR.ID sejak tahun 2008 hingga saat ini.

Samosir, SIMARMATA.or.id – Dalam buku “Aku Orang Simalungun”, karangan dr. Sortaman Saragih ada meneliskan tentang asal-usul penamaan Pulau Samosir. Syahdan, tulisannya dalam bukunya itu, terjadilah satu wabah penyakit menular dikawasan yang sekarang disebut Simalungun. Akibat wabah penyakit tersebut, mengakibatkan jatuhnya banyak korban.

Maka sebagai solusinya, disepakatilah agar orang-orang yang masih hidup untuk diseberangkan secara ‘samosir’ ke kawasan yang ada di seberang Danau Toba. Diberangkatkan secara ‘samisir’ (samosor), artinya mereka yang masih hidup itu dipindahkan secara serentak. Dalam Bahasa Simalungun, arti dari kata ‘samisir’ atau ‘samosor’ adalah berangkat(secara) serentak.

Sudah ada Pada Era Kerjaan Nagur?
Kawasan Balige-Muara dan Pemukiman Turunan Toga Samosir, yang menjadi pintu pertama masuk Pemerintahan Kolonial Belanda ke Samosir. (Foto: Repro Google maps Sayangnya, bila dikaji secara mendalam atas setting peristiwa yang dimaksudkan oleh Sortaman Saragih, maka peristiwa itu terjadi pada era Kerajaan Nagur. Itu artinya, terjadinya peristiwa wabah penyakit menular tadi adalah pada kurun waktu sebelum terbentuknya Kerajaan Maropat di di kawasan yang sekarang disebut Simalungun.

Setidaknya, itu adalah akhir tahun 1400-an atau awal tahun 1400-an. Sekarang yang menjadi pertanyaan: Sudah adakah penamaan atas sebuah kawasan daratan di seberang perairan Danau Toba yang sekarang disebut Pulau Samosir itu?

Bila mempelajari sejarah terbentuknya Pulau Samosir, maka apa yang dikisahkan dalam buku “Aku Orang Simalungun” tersebut, jawabannya adalah tidak benar. Bahwa pada era Kerajaaan Nagur belum ada penamaan atas daratan terhadap kawasan yang di seberang perairan Danau Toba. Seperti telah dituliskan sebelumnya , yaitu dari buku “Sejarah Batak” karangan Op. Buntilan, Samosir menjadi satu pulau baru terjadi sekitar tahun 1900-an. Yaitu saat Pemerintahan Kolonial Belanda mulai menggali kawasan genting di Siogung-ogung Pangururan dengan maksud memutus gerak Sisingamangaraja XII menuju wilayah Tele.

Penggalian kawasan genting Siogung-ogung, sesuai buku karangan Op. Buntilan, selesai tahun 1906. Artinya, secara defacto, kawasan samosir yang dulunya menyatu dengan daratan Pulau Sumatera telah berubah menjadi sebuah ‘daratan yang dikelilingi perairan’ baru dimulai tahun 1906. Atau dengan kata lain, kawasan Samosir berubah dari status tanjung menjadi menjadi pulauitu terjadi pada tahun 1906.

Kawasan Hunian
Turunan Toga Samosir Dengan membandingkan tarikh tahun di atas, yaitu antara akhir tahun 1300-an atau awal 1400-an dengan tahun 1900-an, jelaslah bagi kita bahwa pada era Kerajaan Nagur belum ada penamaan atas Pulau Samosir. Penamaan Pulau Samosir, berdasarkan buku “Sejarah Batak” karangan Op. Buntilan tadi, baru dilakukan Pemerintah Kolonial Belanda ada tahun 1908, setahun setelah mereka mengalahkan Sisingamangaraja XII di Aek Sibulbulon, Parlilitan.

Wilayah Hunian Turunan ‘Toga Samosir’
Proses menjadikan kata ‘samosir’ menjadi nama sebuah pulau di tengah Danau Toba bukanlah tanpa dasar atau punya latar belakang. Pemerintah Kolonial Belanda waktu itu, tidaklah main ujug-ujug terhadap penamaannya. Apalagi soal-soal penamaan ini, mereka sepertinya paham betul dengan psikologi masyarakat Batak. Karena ini menyangkut marwah sebuah kaum. (Barita Si_3/tps)

Komentar Anda